Alhamdulillah! Semoga Alloh Yang Maha Mengetahui setiap
rahasia yang kita simpan di dalam hati kita, menjadikan kita golongan
hamba-Nya yang senantiasa menjaga kebersihan hati. Sholawat dan salam
semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.
Saudaraku, dalam kehidupan kita sehari-hari, kita senantiasa
berinteraksi dengan orang lain. Tidak jarang ada orang lain, mungkin
teman kita atau saudara kita atau keluarga kita yang memberikan kritik
kepada kita. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, dan sesungguhnya
kritik tersebut sampai kepada kita adalah atas izin Alloh Swt.
Ada macam-macam bentuk kritik itu. Diantaranya,
Pertama, isi kritiknya benar dan cara menyampaikannya baik.
Inilah kritik yang bagus dan membangun. Misalnya adalah seseorang yang
memberikan kritik kepada penceramah dengan cara datang baik-baik secara
personal dan berkata, “Ustadz, mohon maaf saya ingin sampaikan
sesuatu terkait ceramah tadi. Kalau yang saya rasakan ceramah Ustadz
tadi lebih banyak candaan yang tidak perlu, juga lebih banyak unsur
riya’nya. Mungkin penilaian saya ini salah, tapi itulah yang saya
rasakan. Mudah-mudahan menjadi bahan renungan demi kelancaran dakwah
kita.”
Kedua, isi kritiknya benar, namun cara penyampaiannya tidak
baik. Misalnya ada seseorang yang datang kepada seorang penceramah dan
berkata, “Hey ustadz! Masa ceramahnya itu lagi itu lagi. Kalau ngga punya materi lain, ya sudah jangan ceramah dulu. Bosen dong!”
Ketiga, isinya tidak benar, namun cara penyampaiannya baik. Misalnya ada seseorang yang datang kepada seorang penceramah dan berkata, “Mohon
maaf ustadz, tadi saya kehilangan dompet. Saya lihat tadi ustadz
pegang-pegang dompet ustadz, saya tidak menuduh ustadz maling, tapi
tolong berikan dompet itu kepada saya.”
Keempat, kritik yang isinya salah dan cara penyampaiannya
pun tidak baik. Kurang lebih contohnya sama dengan jenis yang ketiga,
namun disampaikan dengan ucapan yang kasar.
Saudaraku, perlu kita memiliki pemahaman bahwa jenis apapun di antara
kritik itu yang datang kepada kita, tidaklah berbahaya. Karena yang
berbahaya adalah sikap kita dalam merespon kritik tersebut. Tidak
sedikit orang yang anti kritik, diberi kritik sedikit saja sudah
langsung tersinggung dan marah.
Sikap terbaik adalah menjadikan setiap kritik yang datang sebagai
bahan tafakur. Bisa jadi, kritik tersebut benar adanya sehingga membuat
kita memperbaiki diri. Jikapun kritik tersebut tidak benar, maka itu
menjadi pengingat bagi kita agar terhindar dari sikap-sikap yang tidak
diridhoi oleh Alloh Swt.
Marilah, sedapat mungkin hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita,
menjadi ladang amal sholeh bagi kita. Orang yang beruntung adalah orang
yang bisa menjadikan setiap urusan kecil dalam hidupnya menjadi
bernilai ibadah. Alloh Swt. berfirman, “Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadat (kurban)ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am [6] : 162)[]
Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Kamis, 12 Maret 2015
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar